Kamis, 17 Maret 2011

Proses Kreatif dan Mengolah Kata


PROSES KREATIF DAN MENGOLAH KATA



Writing is adventure (Ernest Hemingway)



Pengantar

Writing is adventure – menulis adalah petualangan, demikian kata Ernest Hemingway, sastrawan besar AS yang karya-karyanya ditandai dengan jiwa-jiwa dan nafas petualangan. Pendapat ini didukung oleh para pengagumnya, khususnya para sastrawan Amerika Latin (misalnya Pablo Neruda dan Gabriel Gracia Marquesz) dan sastrawati Afrika Selatan Nadine Gordimer serta Milan Kundera, sastrawan Cheko. Saya sebagai pengagum Hemingway, juga merasakan hal tersebut: writing is adventure.

Yang dimaksud dengan ‘petulangan’ di sini adalah bukan petulangan secara raga, melainkan paduan dari kekayaan batin dan intelektual (materi dasar/bahan tulisan), imajinasi (kreativitas dan pengembangan) serta kosa kata (penguasaan bahasa). Paduan itu dirangkai menjadi suatu tulisan melalui suatu proses yang disebut proses kreatif.

Tulisan pendek berikut ini menguraikan sekilas mengenai proses kreatif untuk menulis suatu tulisan dan cara-cara menulis agar mudah dipahami pembacanya.



Proses Kreatif dan ‘Lapar’ Menulis

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ‘kreatif’ diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan konteks dalam tulisan ini adalah mencipta tulisan atau menulis, baik itu tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatnnya, menjadi penulis diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis/ilmiah. Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki dorongan yang kuat untuk menulis (the strong will to write) atau dalam jargon creative writing disebut ‘lapar menulis’ (tidak sekedar haus). Dapat dibayangkan, bagaimana jika kita lapar (kelaparan) harus makan. Tentunya, jalan apa pun ditempuh, bukan? Goal-nya adalah makan, harus makan. Dalam kasus ‘lapar menulis’, jalan apa pun ditempuh, it’s goal is do writing.

Jadi, jika kita ingin menjadi penulis atau pengarang, untuk mencapainya adalah menulis – do writing, do it soon, very soon, don’t be postponed. Sayangnya, banyak pihak yang ingin menjadi pengarang atau penulis tetapi hanya sebatas ‘ingin’ karena tidak juga menulis. Alasannya, sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu atau tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk ditulis. Akhirnya, proses menulis pun tertunda.

Benar, untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif yaitu dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan tulisan. Pengalaman saya, ide itu bisa diperoleh/didapat setiap saat, kapan mau menulis. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan, perjalanan (traveling), kontemplasi, monolog, konflik dengan diri sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external), pembrontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu), kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi dan sebagainya. Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis yang sebelumnya telah saya sebut sebagai the strong will to write sebagai modal utama untuk mulai menulis.

Modal kedua, adalah berkomitmen disertai disiplin untuk menulis. Antara lain mempuyai jadwal tetap untuk menulis dan rajin mengumpulkan ide-ide yang akan ditulis. Kedua hal tersebut perlu ditaati agar proses kreatif tidak terputus. Sayangnya, kadang kegiatan rutin yang wajib kita kerjakan membuat kegiatan menulis jadi tertunda atau terbengkalai sehingga tulisan tidak pernah menjadi suatu karya. Untuk mensiasatinya, maka perlu menulis di pagi hari (dini hari) atau malam (hingga larut malam, menjelang pagi). Baik juga memanfaatkan waktu luang pada akhir pekan atau hari libur. Yang penting, ada waktu khususnya untuk memberi ‘ruang’ proses kreatif yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan (karya nyata).



Proses kreatif menulis akan terwujud dengan baik apabila adanya:



Konsentrasi untuk menulis

Menghimpun materi yang akan ditulis

Pengembangan materi yang akan ditulis (mapping mind – menulis dalam kepala)

Dukungan referensi dan sarana menulis Membuat draft materi yang akan ditulisà juga tentukan fiksi atau non fiksi

Diskusi dengan teman untuk membicarakan tulisan akan ditulis – bila diperlukan

Menyusun jadwal untuk menulis disesuaikan dengan jam produktif/biological clock (masing-masing orang punya jam-jam produktif yang berbeda)

Siap menulis tanpa keraguan/bimbang (sungguh-sungguh)

Siap sendirian (menyendiri pada waktu menulis)

Tubuh dalam kondisi fit agar pada waktu menulis tidak ada gangguan kesehatan

Sediakan ‘ruang’ yang nyaman untuk bekerja (menulis)

Ciptakan ciptakan/kondisikan dalam mood yang baik (in the good mood) pada saat akan menulis



Mengolah Kata

Menulis bukanlah sekadar membuat kalimat, melainkan diperlukan kemampuan mengolah kata. Kata-kata yang diolah juga bukan sembarang kata, melainkan kata-kata yang telah dipilih (terpilih) untuk dijadikan media menulis. Kata-kata yang dipilih ini akan membuat tulisan baik atau buruk, menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami pembacanya.

Dalam teori creative writing, untuk menjadi seorang penulis atau pengarang, pertama-tama harus mampu memilih kata-kata yang akan dijadikan media tulisannya. Karena, kata-kata ini merupakan senjata utama bagi penulis/pengarang untuk ‘menaklukkan’ pembaca. Agar dapat memilih dengan leluasa, maka setiap pengarang/penulis wajib kaya atau punya koleksi kata-kata tak terbatas, untuk dirangkai menjadi kalimat.

Pengkayaan kosa kata dapat diperoleh dari bacaan, kamus, pergaulan dan penguasaan beberapa bahasa asing. Penggunaan kosa kata ini tergantung pada keperluan masing-masing (menulis untuk fiksi atau non-fiksi). Tentunya, keperluan pengarang dengan penulis berbeda. Masing-masing punya jargon dan gaya tersendiri. Meskipun demikian, mereka ini punya goal yang sama: tulisannya ingin dibaca pembaca sebanyak dan seluas mungkin. Oleh karena itu, setiap penulis/pengarang pada waktu menulis telah memikirkan siapa sasaran pembacanya. Sehingga tidak salah ‘tembak’.

Tulisan yang menarik (baik fiksi maupun non-fiksi) bagi pembaca, yang utama adalah mudah dipahami. Ada pun yang membuat sebuah tulisan itu mudah dipahami, yaitu:

Ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami pembacanya (tidak banyak menggunakan istilah asing dan jargon-jargon tertentu yang tidak diketahui awam). Apabila ada kata-kata asing atau jargon-jargon tertentu, buat penjelasannya

Ditulis dengan kalimat pendek (idealnya 10 – 15 kata, bila lebih dari itu harus ditanda dengan tanda baca yang ketat, agar pembacanya tidak tersiksa) Alur kalimat ditulis linier tidak bersifat ‘labirin’ (muter-muter, bertele-tele), sehingga tulisan terasa mengalir (flowing)

Tidak ada pengulangan kata-kata dan tidak banyak kata sambung seperti: lalu, kemudian, karena, jadi….dst

Untuk tulisan ilmiah (academic writing) hindari penggunaan kata-kata bersayap dan data yang tidak jelas (harus eksak) à (akan diberi contohnya)

Untuk tulisan non-fiksi hindari pengunaan kata yang sifatnya memberi kesan ‘kering’. Kata bersayap diperlukan, juga bunga kata asal tidak berlebihan.

Isi tulisan tidak menggurui, tetapi memaparkan/menjelaskan sekalipun itu tulisan yang bersifat ‘pengajaran’.

Menyajikan tulisan dengan struktur susunan kata menjadi kalimat yang runtut dan paragraph yang tertata, sehingga tulisan mudah dicernak pembacanya

Mampu menggunakan tanda baca (dalam tulisannya) dengan tepat

Mencari ‘readers’ sebelum tulisan diterbitkan untuk minta pendapatnya (jika diperlukan)

Banyak membaca buku-buku yang disukai pembaca untuk dipelajari bahasa dan gaya penulisan para penulis/pengarang buku-buku yang banyak penggemarnya tersebut. Walaupun masing-masing penulis/pengarang idealnya punya ciri khas tersendiri.

Berani dan mau menerima kritik



Penutup

Kemampuan mengolah kata-kata untuk dirangkai menjadi kalimat tidak bisa dimiliki oleh siapa pun dalam waktu sekejap. Melainkan, memerlukan latihan yang panjang dengan cara terus menulis dengan jadwal tertentu. Materi yang ditulis boleh apa saja, termasuk catatan harian. Karena menulis merupakan ‘petualangan’ yang tidak terbatas dan itu jelas menyenangkan..

Agar bentuk tulisan bisa terwujud, hindari membaca tulisan yang sedang dikerjakan. Sebab, hal ini akan menimbulkan keragu-raguan karena merasa tidak sempurna. Sehingga tulisan akan diulang-ulang dan akhirnya tidak jadi. Maka, sebaiknya tulisan dibaca bila telah selesai ditulis (kecuali menulis novel, perlu dibaca bab per bab).



Selain itu juga diperlukan memampuan mengedit (menyunting) tulisan sendiri.

Penyuntingan ini berguna untuk:

Menyesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang akan dipergunakan untuk mempublikasi tulisan tersebut

Penyempurnaan kalimat

Menciptakan peluang untuk mengkaji isi tulisan, gaya bahasa dan pemilihan kata-kata

Ada peluang menciptakan daya tarik seoptimal mungkin untuk pembaca

Menonjolkan ciri khas gaya tulisan

Tulisan yang ditulis benar-benar matang





Daftar Pustaka Bovee, Courtland John V, Thill, 1999. Business Communication Today (Sixth Edition). New Jersey: Prentice Hall

Connolly, Francis X, 1977. Advanced Composition: A Book of Models for Writing. New York: Harcourt Brace Jovanovich

Garry Provost, 1985. 100 Ways ti Improve Your Writing. London: Penguin

Gordimer, Nadine, 1995. Writing and Being. Massachussetts: Harvard University Press

Lewis, David, 1989. The Secret Language of Success. New York: Carrol and Graf

Plimpton, George (Editor), 1999. The Paris Review Interviews Women Writers At Work. London: The Harvill Press

Pranoto, Naning, 2004. Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang. Jakarta: Prima Pustaka

(Oleh Naning Pranoto di rayakultura.net/)
Categories: ,

0 komentar: