Rabu, 28 Maret 2012

Kiat Sukses Menulis Ala Ahmad Fuadi

Setiap penulis tentu memiliki kiat-kiat sendiri dalam proses kepenulisannya. Ada banyak cara yang mereka lakukan untuk mengembangkan suatu ide hingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang enak dibaca dan membekas dalam hati dan benak pembaca. Syukur-syukur bisa menjadi best seller sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi yang sangat fantastis.
Beruntunglah hari ini, dalam acara Telkomsel-Kompasiana Blogshop 2011 di Jakarta, saya bisa mendapatkan kiat-kiat tersebut secara langsung dari salah seorang penulis best seller dan menjadi pembicaraan di negeri ini. Dialah Ahmad Fuadi penulis “Negeri 5 Menara” dan “Ranah 3 Warna”. Kedua novelnya ini masuk dalam jajaran buku best seller. Tak hanya itu, banyak penghargaan yang diraih mulai dari Anugerah Pembaca Indonesia 2010 hingga Khatulistiwa Literary Award.
Menurut Ahmad Fuadi, tulisan itu merupakan karya yang tidak akan pernah mati, dia akan hidup selamanya. Sarannya, usahakanlah tulisan tersebut membawa kebaikan. Menulis itu juga membuat awet muda dengan kebaikan-kebaikan yang dituliskan tadi. Demikian motivasi yang diberikan Ahmad Fuadi kenapa kita harus menulis.
Ada beberapa kiat yang dilakukan Ahmad Fuadi selama proses kreatif menulisnya, yaitu pilihlah topik yg kita tahu, yang kita senangi, yang kita care, dan yang sangat mendalam di hati kita. Topik-topik yang kita tahu, senangi, care, dan mendalam tersebut akan memudahkan kita dalam pengembangan ide hingga melahirkan suatu tulisan yang baik. Insya Allah, tulisan yang mendalam di hati seorang penulis akan mendalam pula di hati pembaca dan memberi kesan yang tak mudah dilupakan orang.
Selain itu, temukan worldnya apa. World Ahmad Fuadi adalah dunia pesantren tempat dia menimba ilmu. Kehidupan pesantren yang unik demikian melekat dalam hatinya. Itulah worldnya Ahmad Fuadi. Dia juga menyebutkan bahwa menulis itu harus dari hati, biasanya menulis dari hati akan melekat pula dalam hati pembaca. Itulah alasannya kenapa kita harus menulis dari hati. Lebih baik lagi kalau hati itu dikombinasi dengan kepala. Kombinasi keduanya akan menghasilkan tulisan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Ahmad Fuadi mulai menulis tahun 2007. Dia menulis pengalaman yang dia alami 20 tahun yg lalu, saat dia masih duduk di pesantren.  Banyak yang dia lakukan untuk membangkitkan memori yang sudah berlangsung selama 20 tahun yang lalu itu. Cara yang dia lakukan antara lain melakukan riset dengan mencari referensi sebanyak mungkin, terutama yang berkaitan dengan masa pendidikan di pesantren. Riset yang luar biasa memegang peranan penting dalam proses kepenulisan, demikian Ahmad Fuadi berkisah. Riset juga dia lakukan dengan membaca diary yang pernah dia tulis ketika di pesantren. Bahkan foto-foto masa di pesantren dan surat-surat yang pernah dikirim Ahmad Fuadi buat amaknya (ibunya) tak luput dari bahan risetnya.
Menurut Ahmad Fuadi, kunci sukses seorang penulis antara lain banyak membaca, bergaul dengan kamus (baca kamus), dan rajin membaca thesaurus (kamus sinonim). Kenapa kita harus membaca thesaurus? Gunanya agar kita bisa mencari padanan kata yang sama sehingga tak selalu berulang dalam tulisan.
Kapan waktu yang baik untuk menulis? Menurut Ahmad Fuadi, waktu yang baik untuk menulis adalah waktu subuh. Dia selalu menulis di waktu Subuh, sekitar setengah jam. Rata-rata Ahmad Fuadi menulis sekitar sejam dalam sehari. Dalam 1½ tahun, Ahmad Fuadi sukses menghasilkan satu buah buku. Menurutnya, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Yang penting rencanakanlah mulai dari sekarang kalau ingin menghasilkan sebuah buku.
Ahmad Fuadi juga menuturkan alur kerjanya dalam proses menulis. Pertama, membuat mind mapping (menjaring ide), kedua: membuat kerangka awal (calon daftar isi), dan ketiga: membuat pointer untuk memecah ide. Pointer ini dicicil menjadi paragraf, bab, hingga buku.
Di akhir pembicaraannya, Ahmad Fuadi memberi kesimpulan. Katanya, mulailah dengan pertanyaan yang besar, kenapa? Kemudian temukan worldnya, lakukan riset, tetaplah konsisten, luruskan niat, kembangkan subjek yang familiar, dan terakhir carilah referensi, baik dalam wujud tulisan maupun visual.
Ahmad Fuadi berpesan, “Siapa yang bersungguh-sungguh dialah yg berhasil, man jadda wajada”.

sumber: internet
Categories:

0 komentar: