Senin, 04 April 2011

Resensi Mayasmara

by Dwi Aprilyanti

JUDUL BUKU (NOVEL) : MAYASMARA
PENULIS : Dian Nafi dan A(rt)gusfaizal
PENERBIT : Hasfa Publisher
CETAKAN : I, Desember 2010
Kertas : HVS
Tebal : vii + 118 halaman
ISBN : 978-602-98187

Mayasmara, sesuai judulnya novel ini menceritakan kisah asmara gadis bernama Mayana yang jatuh cinta pada seseorang di dunia maya.
Sebuah kenyataan bahwa di era modernisasi dunia maya bagai memiliki kekuatan magis. Jika tidak bijaksana menggunakannya kita bisa terjerumus dalam hal-hal yang membawa mudharat dan jauh dari manfaat. Seperti banyak terjadi akhir-akhir ini banyak gadis usia muda terperangkap jebakan lelaki hidung belang di dunia maya yang belum dikenal terlalu dekat atau sebagaimana halnya kisah sepupu Mayana yang harus kawin lari demi cinta buta lelaki yang hanya dikenal di dunia maya.
Mayasmara dengan cerdas membidik segmen pembaca para peselancar di jejaring sosial dengan penggunaan kata yang lazim digunakan dalam aktivitas berkoneksi, patut diberikan acungan jempol bahwa Mayasmara boleh disebut sukses dalam menautkan kata-kata tersebut menjadi sebuah sub judul (Bab) dalam Novel sehingga terdapat korelasi antar sub judul dengan paparan kisah. Pemilihan kertas dan cover buku yang cantik menjadi daya tarik tersendiri.

Mayasmara tidak secara dangkal membahas cinta dan seluk beluk dunia maya, dalam novel ini banyak ditemui kalimat puitis tentang cinta yang universal bukan hanya antara lelaki – wanita namun juga cinta kepada Sang Pencipta dan orang tua.
Novel dengan dua penulis mungkin bukan hal baru, namun Mayasmara meniupkan angin segar dalam kalimat demi kalimat yang ditulis penuh perasaan.
Kalimat indah yang menelusup ke dalam jiwa seperti : “Gemericik memecah musim dalam keping-keping basah dalam telapak-telapak menengadah setelah adzan menggugah” memberi kesan begitu dalam betapa terkadang kita merindukan Tuhan.
Pergolakan batin Mayana (sebagai sosok yang ingin berbakti kepada ibunda) dan Mayanya – sosok wanita yang memperjuangkan cinta di bab terakhir juga menggelitik untuk disimak.
Tak ada gading yang tak retak, patut disayangkan adanya kesalahan ketik yang banyak terjadi bahkan juga pencetakan isi halaman yang berulang. Selain itu penulisan syair lagu hingga lima lagu dari artis berbeda dan ditulis penuh sedikit mengganggu, setidaknya bisa dipertimbangkan untuk sekedar mengutip syair lagu yang dipandang perlu. Seandainya di bagian akhir novel juga diberikan paparan tentang alasan pemilihan sub judul atau arti kata dari sub judul yang digunakan mungkin akan membuat Mayasmara lebih menarik, mengingat tidak semua pembaca adalah peselancar di dunia maya.

Mayana bukan novel yang memandang cinta menjadi sesuatu yang memabukkan tidak pula menempatkan cinta sebagai sesuatu yang begitu absurd untuk dirasa. Mayana menyisipkan pesan moral : jadikanlah cinta kepada Tuhan sebagai landasan untuk mencintai sesama manusia dan lawan jenis yang didamba menjadi pasangan hidup maka niscaya ketenangan batin pun akan diraih. “Cinta adalah memberi, bukan mengambil, cinta adalah keikhlasan mendapat hak, bukan kewajiban yang harus dituntut dan cinta apapun dalihnya membuatmu lebih bersabar, tabah dan menemukan Tuhan melalui Tuhan”.

0 komentar: