Kamis, 27 Januari 2011




PENGAWALAN
Di tengah masyarakat dari pegaulan sehari-hari kita sering menyebut
kata-kata taqwa, iman, mukmin, muslim dan kata-kata lain yang
sejajar dengannya. Kita sungguh pandai menggelari diri sendiri,
bahkan menggelari orang lain dengan berbagai title Islam. Demikian
kalimat pendek Mujtahid Abu Nazwa Abubakar dalam bukunya
“Membuka Pintu Langit”, (2005). Kalimat yang tiba-tiba
menghentakkan penulis untuk mencoba tidak terbawa pusaran
arus. Bahwa keberagamaan itu seharusnya bukan moda atau gerakan
tren, tetapi merupakan pengalaman subjektif diri dengan
ketuhanannya. Maka Mujtahid, mengembalikannya kepada
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya
untukMu ya Allah”, sebagai ajir yang mematok kehidupan
keberagamaan itu.
Bismillah adalah awal dari segala yang baik. Demikian Baduzzaman
Said Nursi dalam bukunya “Buah Dari Pohon Cahaya”, Pustaka
Firdaus 1984. Bismillah adalah sebuah kata yang amat luhur yang
mendekatkan pada Allah. Dari berjarak menjadi semakin dekat,
semakin merapat, semakin akrab. Pesan Said Nursi, hindarilah
kebodohan. Berilah dengan nama Allah, dan terimalah dengan
nama Allah. Mulailah hari dengan nama Allah. Itu saja sudah cukup.
Maka jika tulisan ini pun terbit dan kini di hadapan pembaca,
penulis pun ingin memulainya dengan mengucapkan Bismillah.
“Setiap orang tahu Tuhan, orang awan pun percaya pada Tuhan
sebagaimana ahli ibadah”, demikian kira-kira gejolak yang merasuk
penulis. Lalu, apakah tahu saja sudah selesai? Dan apakah yang
membedakan awam dan ahli? Tentu harusnya jelas bedanya itu.
Said Nursi menuliskan, mengenal Tuhan berarti mempunyai
kepercayaan padaNya, bahwa Dia menguasai semua mahkluk dan
semua benda, segala yang ada. Baik khusus maupun umum, mulai
dari atom sampai bintang-bintang berada dalam kekuasannyaNya,
dan mendengarkan apa kehendakNya. Mengenal Tuhan berarti
percaya pada kebenaran kata-kata suci:“Tiada Tuhan melainkan
Allah”.
Keberagamaan jelas merupakan sebuah pengalaman diri, subyektif
sifatnya. Subjek-subjek yang tidak bisa terlepas dari kolektif. Bukan
ahli-awam. Maka Jamaah akan meninggikan nilai keberagamaan
itu. Pengalaman itu dipersaksikan. Jadilah jamaah ilmu lebih tinggi
derajatnya.
Tulisan ini tidak ingin menggurui. Penulisnya saja seorang (mualaf)
awam. Ini hanya sebuah ekspresi, dari seorang penulis yang sedang
memasuki keberpangalaman keberagamaan. Jadi sebuah penuturan
subjektif, mengigau sebelum tidur.
Semoga bermanfaat.
REALIGIOUSITAS
Jakarta, Percetakan
xii + 136 hlm, 13.5 x 20 cm
ISBN : 978-602-98386-4-0

untuk pemesanan silakan sms ke 081914032201
atau email hasfapublishing@yahoo.com

0 komentar: