Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Yuk Ikutan GiveAway buku Mantra Asmara

Yuk Ikutan GiveAway buku Mantra Asmara

Tinggal klik saja!
Buruan ya sebelum DL!



Buku Mantra Asmara bisa dibeli di toko buku terdekat, bisa juga via sms/wa 085701591957


Minggu, 25 Januari 2015

LOMBA REVIEW MANTRA ASMARA

LOMBA REVIEW MANTRA ASMARA


Sudah punya buku puisi Mantra Asmara yang cover dan isinya ciamik itu? 

Yuk Ikuti Lomba Review Buku Mantra Asmara. Berikut ini rincian lombanya.
Syarat dan Ketentuan Lomba
  • Tulisan berupa resensi buku “Mantra Asmara"
  • Tulisan diposting di blog/web atau note fesbuk masing-masing
  • Akhir periode lomba: 28 Februari 2014
  • Kirim review-mu dan link postingan ke email hasfriends57@gmail.com
  • Posting link review-mu dan mention twitter @hasfriends atau tag FB page Hasfriends. Beri tag #MantraAsmara
  • Pengumuman pemenang akan diumumkan 3 minggu setelah periode lomba berakhir.
Hadiah
  • Pemenang I mendapatkan paket buku senilai Rp 1.000.000,00
  • Pemenang II mendapatkan paket buku senilai Rp 500.000,00
  • Pemenang III mendapatkan paket buku senilai Rp 300.000,00

Teman-teman bisa membeli bukunya di toko buku Gramedia terdekat. atau bisa juga beli online via  wa/sms 085701591957  atau pin BB 7D521D6F


Sabtu, 05 Juli 2014

Kuis Avatar Mantra Asmara





Hai, teman-teman, kami mengadakan kuis dengan hadiah-hadiah antara lain:

1. Paket buku dari Hasfa Publishing
2. Merchandise dari Hasfa

Jadi begini peraturannya:

1. Kamu harus pasang cover Mantra Asmara sebagai avatar kamu di Twitter atau Facebook
2. Follow akun Twitter @hasfapublishing atau fesbuk Hasfa Publisher
3. Ajak sebanyak-banyaknya teman/follower kamu untuk memasang cover Mantra Asmara sebagai avatar di Twitter atau Facebook.
4. Pada hari Jumat 1 Agustus 2014, konfrmasikan/mention lewat Twitter ke akun @hasfapublishing atau fesbuk Hasfa Publisher berapa orang yang berhasil kamu ajak memajang avatar Mantra Asmara dengan mencantumkan nama-nama akun Twitter/Fesbuk yang kamu ajak dan telah memasang avatar Mantra Asmara.


Indikator kemenangan:
Dua orang yang paling banyak mengajak teman-teman atau followernya memasang cover Mantra Asmara di avatarnya akan mendapatkan langsung hadiahnya.

Mudah kan, kuisnya? Kuis sudah dimulai dari sekarang. Semangat! ^^

*Cover Mantra Asmara dapat kamu copy dari gambar di bawah ini

Kamis, 27 Maret 2014

[Buku Baru] Mantra Asmara


Usman Arrumy menulis dengan kata hati ketika ia berpuisi. Membebaskan diri dari rumus berekspresi, dari kesederhanaannya hadir puisi yang prosaik dan prosa yang puitik.
--- Candra Malik, Sufi, Penulis Buku dan Lagu.

Penyair ini produktif menulis puisi. Usman Arrumy hampir berhasil memilah sekaligus menempatkan diksi-diksi menjadi semacam medium kontemplasi . Puisi-puisinya sebagian besar menyentuh ruang-ruang percintaan. Tema yang memang digemari banyak orang. Namun, terlampau khusyuk mengumbar mutiara, seringkali dapat menjebak siapa saja. Menjerumuskan seseorang kehilangan daya kepekaan terhadap dinamika sosial dan kadangkala pula luput menyampaikan pesan substansial. Padahal, membedah ragam-tema cinta ke dalam puisi; semestinya juga mengasah sekaligus menajamkan panca indera. Senjata penyair untuk membaca semesta.
--- Baequni Mohammad Hariri,  Pegiat Komunitas Seniman Santri

Cinta adalah sumber tenaga yang tak henti melahirkan puisi, bahasa ajaib yang selalu memuncaki peradaban manusia. Begitu selalu, dari waktu ke waktu, cinta dan puisi seolah tak terpisah. “Mantra Asmara” Usman Arrumy sekali lagi membuktikan kebenaran ungkapan ini. Meski jalan panjang masih harus ditempuh; namun, sebagai awal, kumpulan puisi yang terasa kuyup dengan kekelaman ini cukup menjanjikan dan layak diapresiasi.
--- Habib Anis Sholeh Ba'asyin, Ketua Orkes Puisi Sampak GusUran

Usai membaca kumpulan puisi Usman Arrumy ini saya menemukan Jalal al-Din Rumi, Hafizh, al-Jami dan Sanai dalam Diwan-diwan mereka. Para Begawan dan sufi penyair itu bercerita tentang misteri manusia yang tak pernah henti dan selesai mencari diri dalam ruang dan waktunya masing-masing. Ia adalah cinta, karena cinta adalah hasrat mencari kegembiraan dan keindahan bagi diri. Penulis adalah santri, dan saya selalu berharap banyak santri yang tekun seperti dia; menulis puisi dan sastra profetik yang manis dan menggerakkan.
--- KH. Husein Muhammad, Pengasuh Pesantren di Cirebon

Selasa, 24 April 2012

Launching dan Bedah Buku Jadzab

Dihadiri 200 audiens, dihangatkan dengan tampilan pembacaan puisi oleh salah seorang audiens, dipanaskan para penanya dalam tiga sesi tanya jawab/diskusi  serta ditutup dengan pembacaan puisi oleh para penulis, launching buku Jadzab alhamdulillah sukses dan gayeng.

ketika santri menulis, ketika tulisannya dikaitkan dengan pesantren, tentu saja mengangkat citra pesantren. mengembalikan pada tradisi lama pesantren. karena sesungguhnya pelajaran utama dari Rasul adalah menulis.
Alqur'an dulunya ditulis tanpa titik, kemudian diperbarui dengan adanya titik, harokat, ilmu tajwid dan seterusnya, yang semuanya dimulai dengan proses tulisan.
Kejayaan Islam, kejayaan peradaban juga karena tulisan para ulama'. Jadi salah kalau kita sampai meninggalkan tradisi kreasi/menulis.
Kenapa jadzab?
Karena karakter santri setiap saat memang harusnya jadzab. majdzub, ditarik oleh Allah. dia tidak tahu akan ke mana, seakan tidak sadar, tapi yang dikatakannya itu dari Allah.
harapannya, penulis -penulis ini teruslah jadzab agar tidak jauh dari Allah dan ilham dalam berkreasi senantiasa dari Allah.
(Gus Reza - Rektor IAIT Tribakti dalam pembukaan acara Launching)

Launching buku JADZAB : Sekumpulan Puisi Lintas Pesantren, juga dihadiri para kyai dan ibu nyai. semoga berkah manfaat. aamiin..


YANG MENGHARUKAN
Nabila, mahasiswi Fisip UGM salah satu penulis puisi di buku JADZAB mengisahkan cerita berkenaan buku istimewa ini.
"ibu, di hari ulang tahunmu.buku ini yang terbaik yang saya punya saat ini kupersembahkan untukmu"
Dan sang ibu yang entah pernah menulis puisi sebelumnya atau tidak, demikian penuturan sang putri,  membalas persembahan dari putrinya dengan sebuah puisi indah yang dibacakan sang putri pada acara launching buku JADZAB kemarin.
menetes air mata haru mendengar kisah ini dan semakin deras air mata saat  dibacakan puisi karya sang ibu yang sangat menyentuh hati.



YANG MENGEJUTKAN
salah seorang dosen tribakti yang menjadi audiens, mengapresiasi buku Jadzab dengan membacakan salah satu puisi yang menjadi favoritnya dengan penuh penghayatan.
*ning Ochi.. i love you. demikian penutup dari pembacaan puisinya, ditujukan bagi sang penulis yang puisinya dia bacakan. tak ayal, gemuruh tepuk tangan, tawa, komentar dan berbagai reaksi lainnya menambah hangat suasana.

KURATOR NUREL JAVISSYARQI MEMBEDAH BUKU JADZAB
Usman Arrumy mewakili seluruh penulis buku Jadzab mengurai tentang isi buku. Kurator Nurel menyampaikan kritik dan juga pujian bagi puisi -puisi dalam buku ini.
sesi diskusi dibuka dalam tiga termijn. dengan masing -masing termijn mempersilakan tiga penanya. kesemuanya antusias dan membuka lebih lebar dan luas wacana seluruh yang hadir.


PEMBACAAN PUISI OLEH PARA PENULIS YANG HADIR
Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh beberapa penulis yang hadir dari berbagai tempat. Cirebon, Demak, Jogja, Lamongan, Kediri, Jombang.
Dan tak lupa sesi book signing dan ramah tamah para penulis menjadi bagian dari event launching yang alhamdulillah sukses.
semoga berkah.

Rabu, 23 Maret 2011

Ada Apa Dengan Puisi

Ada Apa dengan Puisi?



Sungguh sulit meletakkan puncak kegairahan estetik dalam puisi modern kita belakangan ini. Dalam sebuah perbincangan tak resmi Hasif Amini–penjaga rubrik puisi di harian Kompas–mengamini lontaran saya perihal begitu kurang dinamisnya puisi jika dibandingkan dengan prosa.



Booming penerbitan yang nampak dalam lima tahun terakhir tak urung menggoda para penyair untuk hijrah sejenak dalam kepenulisan prosa, mulai dari cerita yang maunya dikonstruksikan menjadi bacaan sastra maupun sekedar deuce et etile- hiburan saja. Sah-sah saja, karena ini urusan pilihan. Budi Darma dalam Solilokui (1984) mengatakan semua pengarang hakekatnya adalah penyair.



Pertanyaan mengusik, benarkah perkembangan puisi kini tinggal reproduksi penyair-penyair sebelumnya? Atau seperti ujaran penyair Jamal D. Rahman, apa yang tersisa kalau hampir segala perambahan pengucapan puitik sudah dilakukan? Benarkah puisi sudah hilang daya tariknya sehingga meski antologi puisi dan rubrik puisi diterbitkan kedudukannya berhenti secara estetik?



Benarkah usaha untuk mengkomodifikasi puisi dari sudut pandang sosialisasinya sudah tidak menarik lagi dibandingkan cerpen dan novel yang karena pencapaiannya dapat merengkuh lebih banyak pembaca? Benarkah meskipun setiap masa yang konon melahirkan sejarah sastranya masing-masing, kerja kritik sastra sudah tak sanggup menampung lantaran begitu banyak jumlah penyair yang muncul?



Pertanyaan-pertanyaan demikian seketika muncul di benak publik masa kini yang masih terpesona kepada pembaruan daripada kedalaman, apalagi kebermainan. Padahal jika mau mencatat kebaruan, almarhum penyair Saut Sitompul (meninggal 2004) cukup punya kecenderungan itu dengan siasat menyelipkan ritme chanting di tengah bait puisinya di samping ia sendiri punya kredo singkat: tulis! Saut tak tercatat lantaran ia berkarya dengan cara tak lazim: menjadi penyair jalanan sehingga namanya terluputkan para pemawas sastra yang masih berparadigma lama.



Ekspetasi melulu kepada kebaruan, tak disadari membuat kerja budaya kehilangan arah. Penerbitan buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, misalnya. Buku susunan Korrie Layun Rampan ini menunjukkan betapa sulitnya menemukan pembaruan sejarah sastra kita. Buku ini menimbulkan keraguan antara leksikon entri pengarang atau kajian sastra mutakhir dari berbagai genre.



Berbeda dengan peneliti sastra Pamusuk Eneste yang tak mau buru-buru menetapkan siapa yang berhak menyandang predikat “sastrawan masa depan” dengan menerbitkan buku entri pengarang (Buku Pintar Sastra, Leksikon Sastra) dan bibliografi dibandingkan Korrie yang tampak bingung sendiri menentukan “garda depan” sastrawan modern kita. Dampak lainnya -meminjam istilah musik “the singer not the song”- yaitu dengan mudahnya kita menyebut sekian banyak nama pengarang, tapi sulit menyebut siapa yang paling menonjol.



Apresiasi puisi menjadi sunyi. Puisi kembali hakikatnya menjadi sekedar bunyi lantaran apresiasi terhadap perkembangannya jarang dilakukan. Catatan terakhir dari estetik puisi mungkin baru Radhar Panca Dahana yang menyebut “puisi hampir tak berjarak dengan prosa” (esai Dunia Prosa, Kompas, 27 Juli 2003). Selebihnya hanya mencatat sebagian kecil dari fenomena tertentu, misalnya metafora seks yang juga masuk ke dalam puisi.





Komunitas puisi di berbagai tempat memang tumbuh seperti Berkat Yakin (Lampung), BlockNot Poetry (Jogja), Riau, Dokarim (Aceh), dan lainnya. Atau di tingkat publikasi, penyair Karsono H. Saputra (penerbit WWS dan Bukupop) punya komitmen mengharukan menerbitkan pelbagai buku antologi puisi Indonesia, mulai dari sajak-sajak reflektif sampai ringan dalam ukuran pocket books (buku saku). Kendala keterbatasan akses selain pemawas sastranya sendiri yang selalu membandingkan dengan zaman dulu tetap ada akibat perkembangan kritik sastra yang lahir pasca H.B Jassin gagal membuka kekuatan dan kelemahan penyair dengan melulu menjadi pujian. Sastra hanya mampu mencatat nama dan riwayat pengarang tanpa kesempatan mencatat nilai-nilai, apalagi menyusun pemikirannya.



***

Bolehlah Sutardji Calzoum Bachri dalam Puisi Estafet (Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001) mengatakan generasi puisi berikut masih memegang tongkat estafet generasi pendahulunya. Tapi, akibat perhatian yang melulu terpesona kepada pembaruan, sebetulnya nyaris menutup mata kita sendiri untuk bekerja lebih serius menelaah karya-karya yang sudah ada.



Puisi sebetulnya tak cukup dengan urusan kebaruan. Pilihan sang penyair kepada suatu genre juga perlu diperhatikan. Jika tidak, puisi akan terus dianggap mandek. Padahal bukan tak mungkin suatu saat kemasan puisi ke berbagai bentuk seni lain mampu mencapai pengucapan baru yang mandiri.



Bukankah para penyair yang sudah menjadi kanon mengawali dirinya dengan eksperimen? Bukankah puisi itu sendiri tak mungkin lahir dari ruang kosong, bak perkataan Adolfo Sanchez Vasquez yaitu “sastra lahir dalam kekinian dan kedisinian yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973)?



Kerja budaya dalam puisinya sendiri bukan berarti sudah beres. Setelah melulu dianggap sebagai “pemegang tongkat estafet”, urusan lain yang sebenarnya masih dapat diupayakan sebagai titik tolak pembaruan puisi juga belum ada.



Puisi terjerembab menjadi konsumsi panggung deklamasi setelah gagal mengarungi kekuatan tekstual. Apalagi tak banyak yang memerhatikan publikasi lain yang sebetulnya berpeluang misalnya musikalisasi puisi, memanfaatkan teknologi: permainan tipografi (salah satunya pernah dilakukan Cyberpuitika), film puisi seperti yang dilakukan sutradara Lars Buchel dan penyair Anne Rostanberg (keduanya dari Jerman), film animasi dalam video klip seperti yang dilakukan MTV di era 1990-an dengan menerjemahkan puisi bergaya Victorian ke dalam bentuk gambar, sampai menampilkan kutipan puisi ke dalam ponsel sehingga penyair kelak juga mendapat royalti bak penyanyi yang lagunya dibuat menjadi ring tone (ini sekedar analogi).KOlaborasi puisi menjadi film pun di Jerman selain membuka peluang baru juga menimbulkan polemik yang justru memerlihatkan kerja puisi menjadi dinamis. Misalnya perlukah puisi Goethe yang diterjemahkan ke film membuat puisinya jadi lebih baik atau sebaliknya? Bukti lain (akibat kerja puisinya sendiri yang kurang progresif) tak banyak lagu bagus sekarang yang syairnya digarap penyair atau ditulis secara puitik.





Contoh di atas memang bukan semata kerja penyair seorang diri. Diperlukan keterbukaan dirinya di bidang lain di samping mendapat bantuan dari para maecenas. Pertanyaannya, mengapa belum banyak ditempuh cara lain untuk meningkatkan harga puisi ?



Tiada hal lain yang bisa dilakukan kecuali perbaikan kerja sastranya sendiri di samping pengamatan yang mampu melontarkan karya dalam ruang kosong.



(Oleh Donny Anggoro di nasional.kompas.com, dari sastra-indonesia.com)

Minggu, 20 Februari 2011

Daftar Peserta Event Puisi berlatar kejadian di Mesir

terimakasih partisipasi teman-teman semua. insya Allah pengumuman tgl 2 Maret 2011.

berikut update daftar pesertanya. yang merasa sudah mengirim, tetapi belum tercantum di daftar ini, silakan memberitahukan di komen berikut memberika link puisinya. terimakasih..



1 LUKA-LUKA YANG DISEBABKAN OLEH SEJARAH Muhammad Nurcholis

2 Melangkah Yandigsa Aja

3 Pangkuan Ibu JL. Pello

4 Aku masih mendengar Syaque

5 Pendulum Sudah Berputar Alya

6 Syahadat Terakhir Endang SSN

7 Langit Memerah Darah Ihsanul Fikri

8 Rindu Sejuk Nil Ir one Sandza

9 Euforia Kepiluan Sandza

10 Nyawa Peradaban Vina

11 mariam winda

12 Mesir Terakhir Rosintan H

13 Bukan pejuang Mardhatillah

14 terlumuri cinta semumu telaga mega

15 usai winda

16 asa mesir Ihsanul Fikri

17 DOA SEORANG WANITA MESIR YANG TAK IKUT KE JALAN Ganjar

18 SELONGSONG SENJA DI TAHRIR SQUARE Ganjar

19 BAKARAN DI DEPAN GEDUNG PARLEMEN* Ganjar

20 Nurani JL. Pello

21 Sumpah istri di depan mayat suami Febri

22 Kota mati Rusydi

23 Gugusan Asa Modemoissel

24 mesir pun berduka Modemoissel

25 wajah langit ayat khalili

26 berita di koran tony mukharrom

27 sampai kapankah tony mukharrom

28 jeritan syuhada mesir evi andriani

29 kemana naluri kasih mereka hylla shane

30 Gentingnya Gaza, gentingnya genting hylla shane

31 alun-alun tahrir dimas ps

32 peluru tak meletupkan rindu jumardi putra

33 mesiu jumardi putra

34 adalah firaun jumardi putra

35 sajak yang tercipta di lembah sungai nil syahdaka

36 ketika rakyat bicara hendy lazuardi

37 1001 batu hendy lazuardi

38 dalang di balik mesir hendy lazuardi

39 Munajat Rindu cahaya terang

40 Warta Tragedi Tanah Musa cahaya terang

41 hikayat mujahid cinta een tea

42 LUKA DI PYRAMID BISU alam penyair maya

43 KELAS GILA alam penyair maya

44 KUASA DIATAS DARAH alam penyair maya

45 derum hati hoshi yugata

46 Sengaja Kukirim Sebait Sajak Ini untuk Mubarak fiyan arjun

47 Mesir Kini elis tating badriah

48 Cleopatra Bercinta elis tating badriah

49 Al-Azhar elis tating badriah

50 keindahanmu hilang sekejap asni a sueib

51 Menanti senyuman untuk Negeri Piramid aini nur latifah

52 bunda alya

53 sedikit saja untuk seperti biasanya wahyuni sitoresmi

54 tentang mesir lina

55 piramida biolen

56 hosni ari biolen

57 Menunggu Kabar Edja irwansyah

58 Guncangan Negeri Epik Edja irwansyah

59 beberapa catatan sebelum ia pulang ke indonesia pring abdi surya

60 NEGERI PIRAMID Nella s wulan

61 PINTA AYAH DARI TANAH AIR Nella s wulan

62 ketika alexandria bertakbir alaysa

63 sekuntum sajak untuk negeri kinanah chaerul akbar

64 MESIR BERDARAH inggar ash

65 MERINDUKAN MESIR inggar ash

66 repertoar dari tahrir husen arifin

67 Kenangan Malam yang Kau Ceritakan husen arifin

68 sajak cinta, bukan peluru Aasyari Muhammad

69 ini rumahku, tuan! annisa septia

70 balada revolusi ummu ceria

71 surga ilmu yang hilang ummu ceria

72 kepada penggembala amanat raditya usra

73 ssssssssstttttttttt riya wati

74 egypt biolen

75 doa dalam tangis deva del amor

76 karena di sana sama cak ndor

77 ingin pulang Nessa

78 gelombang panas cak ndor

79 alexandria Endang SSN

80 people power yulli riswati

81 kidung lara silvia

82 di mesir hasan bin ali

83 debu vudu

84 rindu vudu

85 sepucuk surat vudu

86 negeriku karam di laut merah asyari muhammad

87 kataku II agustini suciningtyas

88 kidung hati si jelata niken prawesthi

89 lentera malam Edja irwansyah

90 kairo biolen

91 menghitam Hitam tony mukharrom

92 ayo melihat binta el mamba

93 gundah muhimmah

94 anai-anai di negeri api binta el mamba

95 kataku agustini suciningtyas

96 gejolak itu abu-abu binta el mamba

97 MEMAKNAI GELORA DEMOKRASI moh ghufron cholid

98 TENTANG NIL moh ghufron cholid

99 NEGERI SERIBU PIRAMID moh ghufron cholid

100 kumandangkanlah eric kroncong

101 seikat rindu ahmad ijazi

Pena Hati Sang Kupu-kupu


Tiada keberanian tertinggi selain mereka yang menghadapi kematian
dengan tersenyum. Senyum itu sepenuhnya berisi ikhlas, tabah, dan
totalitas pada kesadaran diri dan Sang Penciptanya. Itulah esensi
dari hidup, bukan kematiannya. Sahabat Odapus (orang dengan
Lupus) adalah para pemberani itu. Dan saya meyakini, Tuhan
bersama para pemberani. Apalagi, selain rasa hormat dan
kekaguman yang sangat yang harus saya sampaikan, Sehingga
menerbitkannya menjadi sebuah kebanggaan yang dalam bagi
Hasfa Publishing.
Siapa pun Anda, para pembaca isi buku Antologi Puisi Sahabat
Lupus ini, kita akan terbakar, karena setiap katanya adalah percikan
hati.

PENA HATI SANG KUPU-KUPU
(Antologi Puisi Sahabat Odapus)
ISBN 978-602-98386-5-7
Rp. 40rb
utk pemesanan, silakan kirim message ke inbox fb hasfapublisher
tulis nama/alamat/jml/judul buku dipesan.
atau sms 081228310203/081914032201

mata yola



"Mistisisme sajak-sajak pendek terletak pada cara menggoreskan kuas seperti satu tebasan pedang. Tajam. Mengena. Dan tidak pernah mengizinkan satu kata pun terbuang percuma. Yoyong Amilin bolehlah dikedepankan sebagai penyair muda yang menempuh jalan ini."
(Pringadi Abdi Surya – Penyair)

Sulit menulis puisi pendek dengan kalimat yang jernih dan tepat sasaran. Setidaknya, lewat apa yang ditulisnya itu, Yoyong Amilin telah berhasil mengekspresikan pengalaman batinnya dengan baik. Puisi-puisinya sangat sederhana, namun sarat makna. Hal ini dimungkinkan, sebab sang penyair cukup menguasi pengalaman batin macam apa yang hendak diekspresikannya itu. Selamat dan sukses, terus menulis hingga menemukan bentuk yang baru.
(Soni Farid Maulana – Penyair)

Menulis Puisi pendek bukan hendak melakukan simplifikasi persoalan kedalam untur tematiknya, penyair hendak menambah kepekatan kadar absurditasnya, membuka peluang pembaca mematahkan jajahan metanarasi, disamping menawarkan tantangan enigmatic bagi pembacanya. Dan Yoyong Amilin salah satu penyair berbakat yang ahli dalam puisi pendek yang harus dicatat dalam sejarah.
(M Taufan Musonip – Essais)


Jika seorang penyair merasa cukup merangkai sajak dengan satu atau dua kata saja, maka ia akan menjadi puisi. karerna hakikatnya, sebuah puisi tidaklah terletak pada bait yang panjang atau pendek. Tapi terletak pada emosi si penyairnya,
Tapi tidaklah mudah menulis puisi pendek, karena ia harus melalui tahapan yang berliku, empiris yang dalam, pikiran yang liar, energi yang kuat, dan emosi yang teratur, sehingga ia menjadi puisi.
Membaca puisi puisi pendek Yoyong Amilin, sebagian sudah berhasil sebagai puisi, sebagian hanya umpatan dan terkesan memaksakan diri.
tak apa-apa.
Matdon (Rois 'Am Majelis Sastra Bandung)

Terbit di Hasfa Arias Lini Hasfa Publishing
Mata Yola karya Yoyong Amilin
silakan pesan ke inbox hasfapublisher, tulis nama/alamat/jdl buku yg dipesan

Kamis, 27 Januari 2011


Tiada keberanian tertinggi selain mereka yang menghadapi kematian
dengan tersenyum. Senyum itu sepenuhnya berisi ikhlas, tabah, dan
totalitas pada kesadaran diri dan Sang Penciptanya. Itulah esensi
dari hidup, bukan kematiannya. Sahabat Odapus (orang dengan
Lupus) adalah para pemberani itu. Dan saya meyakini, Tuhan
bersama para pemberani. Apalagi, selain rasa hormat dan
kekaguman yang sangat yang harus saya sampaikan, Sehingga
menerbitkannya menjadi sebuah kebanggaan yang dalam bagi
Hasfa Publishing.
Siapa pun Anda, para pembaca isi buku Antologi Puisi Sahabat
Lupus ini, kita akan terbakar, karena setiap katanya adalah percikan
hati.

PENA HATI SANG KUPU-KUPU
Antologi Puisi Sahabat Odipus
viii + 110 hlm, 13.5 x 20 cm
ISBN : 978-602-98386-5-7

untuk pemesanan silakan sms ke 081228310203
tulis nama/ alamat/ jumlah/ judul buku yang dipesan



Cinta adalah derita istimewa dan membahagiakan penderitanya.
Kita bisa saja melakukan seribu satu hal untuk berkembang,
namun cukup satu cinta untuk membebaskan dari diri sendiri.
Karena cinta adalah ciptaan Tuhan yang paling sakti. Bahkan
seorang Rabiah pun karena cintanya kepada Allah, tidak
menyisakan waktu untuk membenci setan.
Sejak ku dengar tentang dunia cinta
kumanfaatkan hidupku
hatiku dan mataku di jalan ini
aku pernah berfikir bahwa
cinta dan dicintai itu berbeda
kini aku mengerti bahwa
keduanya adalah sama. (Rumi)
Cinta, sang pembawa kebaikan yang mengakibatkan segenap
perubahan dengan kekuatan ajaib yang dapat melampaui
apapun. Bahkan mengantarkan kita kepadaNya lewat karpet
merah.
Dengar kawan, cinta itu bagaikan matahari. Hati tanpa cinta
tak lebih dari seonggok batu (Kabali).

Kumpulan Puisi Penggugah Jiwa
a[rt]gus faizal
Aletheia Cinta
xii + 118 hlm, 13.5 x 20 cm
ISBN 978-602-98386-3-3

Selasa, 04 Januari 2011

TigaSegiBiru


Puisi sejak riwayatnya yang paling usang adalah dunia tersingkir, dunia tercibir.
Demikian Damhuri Muhammad dalam pengantar buku Luka Mata, buku sajak Hasan Aspahani.
Puisi pula yang telah menjadi medium terluar ketika kedahsyatan menerpa seseorang.
Demikianlah pula ketika bencana alam di tiga sudut bumi nusantara menuliskan puisinya.
Dan mereka, para penulis yang mengirimkan puisinya, telah menuliskannya kembali menjadi untuk, apa yang disebut Dahari sebagai "menghembuskan gairah epistemologi". Jika kini puisi-puisi ini menjadi buku yang terbaca, itu karena puisi telah menjadi kasih karena bencana tak boleh hanya lara sendiri.

Sebagai antologi, keberagaman menjadi dimensi yang menguatkan buku ini yang didedikasikan sepenuhnya untuk bencana yang tak hanya sampai pada simpati. Tetapi ingin menjadi saksi, bahwa puisi menjadi kasih yang nyata dalam kata dan tindakan.


buku "TigaBiruSegi"
Antologi Puisi Kasih – Tanah,Air, Udara
ISBN 978-602-98386-0-2
harga : Rp 30.000, tebal 116 hal, HVS 70 gr, ukuran 13,5x20 cm.

Insya Allah, seluruh profit penjualan buku TBS disumbangkan bagi korban bencana alam.

Hujan Purnama


MEMBENCI RINDU
hujan
larutkan candu
tidurkan aku

karena terjaga
tanpanya
gigil jiwa

hujan
larung racun
bangunkan aku
dalam bening

TERAYUN

Kurangkum embun syukur
Bersama matahari yang Kau kirim untukku
Pertemuan
Waktu
Takdir
Guru
Misteri keabadian yang hanya milikMu
Larungkan gelisah dan guris luka
Tuhanku Kekasihku
Kuperani skenario terindahMu
dalam ombak tangis
liuk senyum

memelukMu sungguh hasrat terdalam
bersama langkah tertatih
dan hati yang masih berayun
karena CintaMu memanggil


Hujan Purnama
Kumpulan Puisi Ummi Hasfa
130 hlm
Rp. 25.000,-
silakan pesan via inbox HP
atau sms 081228310203
atau email hasfapublishing@yahoo.com

Senin, 15 November 2010

antologi puisi

IKUT YUK... ANTOLOGI KASIH UNTUK KORBAN BENCANA

Antologi Puisi :Kasih – Tanah Air Udara


Persyaratan:

- menulis Puisi dengan tema: bencana al. Mentawai, Wasior, Merapi

- naskah akan melalui seleksi (akan diambil 40 naskah) penelaahan untuk kelayakan terbit

- setiap orang boleh mengirimkan karyanya lebih dari satu (sampai 3 judul)

- keuntungan seluruhnya akan disumbangkan setelah dipotong biaya pengadaan buku

- Pengumpulan naskah terakhir / Batas posting : 28 November 2010


- Puisi yang dikirim wajib di posting di note FB masing-masing, men-tag fb ummihasfa,fb hasfa
publisher dan 15 teman lainnya

- Menyalin kata-kata berikut –dalam kurung- di bawah puisi yang di posting di note FB : (puisi ini diikutkan dalam antologi puisi kasih - tanah, air, udara.)

- Hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.

- Pengumuman di hasfapublishing.blogspot.com insya Allah tanggal 14 Desember 2010


Sebagai ucapan terimakasih, berikut sedikit kenang-kenagan dari kami,

Peringkat satu, mendapatkan buku Crazmo

peringkat dua, mendapatkan buku Setan 911


*) hanya akan terwujud jika tulisan yang masuk memenuhi target buku

salam pena

Hasfa Publisher